Sebagai salah satu orang yang mempunyai minat dan ketertarikan lebih terhadap bidang wirausaha atau istilah kerennya entrepreneurship, saya merasa harus membagikan apa yang saya lihat, rasakan, dan apa yang membuat bidang ini terasa asyik bagi saya. Pada akhirnya, tulisan ini saya beri judul, Fadhillah atau keutamaan Menjadi Pengusaha.
Inilah Awal Mula Saya Mengenal Entrepreneurship
Setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara, saya masih memiliki sekitar 1 bulan free sebelum memasuki dunia kampus. Alhamdulillah saat itu, saya sudah mengantongi satu kursi untuk kuliah di ITB tanpa harus melalui ujian masuk SPMB atau SNMPTN. Sehingga bulan-bulan yang kosong tersebut saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menambah wawasan dan pengalaman. Salah satunya, adalah mengikuti seminar-seminar yang dapat menjaga otak tetap ON selama liburan, hehe.

Dari beberapa seminar yang saya ikuti, ada satu seminar yang menurut saya gila (dalam hal yang positif) dan dapat saya katakan memberi pengaruh yang besar terhadap kehidupan saya beberapa tahun terakhir ini. Judul seminarnya adalah “Cara Gila Jadi Pengusaha” yang dibawakan oleh President Direktur Primagama, Purdie E Chandra di Ballroom Quality Hotel, Solo. Kebetulan Pak Purdie adalah pakdhe (kakak dari Ibu) saya sendiri, hehe. Waktu itu saya diajak langsung oleh beliau dan berangkat dari Jogja satu mobil dengan beliau, boleh mampir ke kamar hotel, dan masuk ke seminarnya pun gratis, Alhamdulillah.
Singkat cerita (silakan hadiri sendiri seminarnya karena saya tidak akan ceritakan) setelah mengikuti seminar tersebut, malamnya kepala saya langsung panas ga karuan. Baru kali ini pemikiran saya goyah goyah- segoyahnya (lebai.com). Terus terang, virus entrepreneur yang beliau sampaikan benar-benar dahsyat. Banyak orang bilang itu berbahaya, tetapi bagi saya, itu bermanfaat saat kita mengolahnya dengan kadar dan pemahaman yang tepat. Sejak saat itulah, saya jatuh cinta dengan dunia entrepreneurship.
Bertemu dengan Sang Mentor
Semangat berwirausaha itu akhirnya saya bawa ke Bandung, kota tempat saya kuliah. Sayangnya, semangat saja tidak cukup untuk merealisasikan apa saja yang kita inginkan. Perlu untuk tahu bagaimana membuat semangat itu ditransformasikan menjadi tindakan atau action yang tepat dan sesuai sasaran. Saat itu, saya mencoba untuk mencari siapa yang kira-kira bisa dijadikan mentor, seseorang yang sudah melakukan sebelumnya dan bersedia membagikan ilmu dan pengalamannya.
Pencarian mentor ini memakan waktu yang lama, sekitar 1-2 tahun, sampai pada akhirnya saya menemukan seseorang yang luar biasa bernama Rendy Saputra. Kebetulan, saat itu Kang Rendy baru akan membuka les bisnis angkatan pertamanya, yaitu ECP (Entrepreneur Coaching Program), program belajar entrepreneurship yang diadakan tiap minggu sekali, sebanyak 9 pertemuan (selesai kurang lebih 3 bulan). Saya pun menjadi pendaftar pertama di angkatan pertama pula!
Tidak hanya mentor bisnis, dia pun akhirnya menjadi guru agama saya yang sampai sekarang, minimal kami bertemu seminggu sekali dalam keluarga ta’lim Darusy Syabab, rumah pemuda yang beliau dirikan 1 tahun yang lalu.
Belajar Berbisnis dengan ‘Saputra Way’ nya ECP
Ternyata pembelajaran di ECP melebihi dari yang saya bayangkan sebelumnya. Rendy Saputra tidak hanya mengajarkan seluk beluk bisnis, tetapi juga berbagi tentang kehidupan ini. Bahwa bisnis tidak semata-mata mencari keuntungan sendiri, bahwa bisnis harus dijalankan dengan ‘value’ yang benar sehingga berkah dan manfaat, dan lain-lain.
Salah satu yang sampai sekarang masih nempel di otak saya adalah sebuah mindset pengusaha yang di dalamnya tersirat betapa mulianya menjadi seorang pembuka lapangan pekerjaan bagi orang yang memerlukan. Berikut ini, saya akan jelaskan secara menyeluruh tentang keutamaan atau fadhillah menjadi pengusaha:
1. Membuka Pintu Rejeki yang Lebih Banyak
Rasulullah bersabda, 9 dari 10 pintu rejeki adalah dengan berniaga/berdagang/berwirausaha. Bukan berarti uang atau kekayaan itu segala-galanya, tetapi dengan harta yang lebih itu, kita bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan. Nabi Muhammad pun dulu seorang entrepreneur yang sukses, dan beliau jadikan kesuksesannya untuk membantu fakir miskin dan siapa saja yang memerlukan. Banyak saudara kita yang sampai sekarang harus hidup serba kekurangan dan bergantung pada sedekah, zakat, dan uluran tangan orang lain. Dengan memiliki rejeki yang lebih, maka kita bisa lebih banyak bersedekah dan beramal. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Bukankah membantu mereka yang kekurangan tidak cukup hanya dengan doa, tetapi juga tindakan nyata dari kita?
2. Membuka Lapangan Pekerjaan Bagi Orang Lain
Faktanya, jumlah pengangguran di negara kita saat ini masih sangat banyak. Dari yang hanya lulusan SD sampai SMA, bahkan lulusan kuliah. Sehingga negara ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya bisa melamar pekerjaan, tetapi juga yang sanggup memberi lapangan pekerjaan untuk orang banyak. Mereka para pengangguran itu perlu hidup yang lebih layak, dalam artian kebutuhan dasar sebagai manusianya terpenuhi dan aktualisasi dirinya pun terberdayakan. Bukankah setiap orang berhak atas kehidupan yang lebih baik? Bukankah kesuksesan akan lebih asyik kalau dicapai bersama-sama dengan orang lain, bukan dicapai sendirian dan membiarkan orang lain di sekitar kita tidak berdaya? Bukankah sangat menyejukkan hati ketika kita dapat menghidupi banyak keluarga minimal menjaga dapur mereka tetap ‘ngepul’ setiap hari?
3. Memanfaatkan Potensi dan Passion Kita, SELURUHNYA
Di poin ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa menjadi karyawan itu kurang baik ya, hanya bagi saya menjadi entrepreneur itu, sekali lagi, lebih asyik. Mengapa? Kita bisa bebas memakai seluruh potensi yang diri kita miliki saat berwirausaha. Saya yakin, setiap dari kita memiliki potensi dan passion yang tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam. Ada seseorang yang suka seni, olahraga, dan hal yang berbau sosial. Ada yang jago akuntansi tetapi juga lihai bermain piano, bahkan suka bertani. Wah, macam-macam, dan akan menjadi sayang saat berbagai keahlian yang kita punya itu pada akhirnya banyak yang harus kita korbankan demi mengejar karir yang menuntut spesialisasi. Contohnya, di dunia kerja, ada seorang karyawan yang pandai masalah keuangan dan sebetulnya punya kemampuan juga di bidang marketing. Saat ia mengusulkan ide-ide marketingnya untuk perusahaan, biasanya bos nya akan berkata, “Anda bekerja di bagian keuangan, masalah marketing sudah ada tim nya sendiri, cobalah fokus pada bidang Anda dahulu.” Walah-walah, repot ya. Itu namanya pembunuhan potensi dan passion. Saat kita punya kemampuan 90 poin tetapi hanya bisa digunakan 40 poin, apa rasanya? Menjadi entrepreneur, kita bisa bebas memberdayakan kemampuan dan kekuatan kita, tanpa ada yang membatasi. Kita punya 100 poin, ya seratus seratus nya kita pakai semua. Bukankah kita harus mensyukuri SEMUA anugerah yang DIA berikan kepada kita?
4. Turut Berperan Menggerakkan Ekonomi Masyarakat
Agar lebih jelas, saya langsung kasih contoh saja mengenai poin menggerakkan ekonomi masyarakat. Kebetulan contohnya adalah saya sendiri, hehe. Alhamdulillah, sekarang saya sedang running bisnis jasa pesta barbeque, di mana kami menyediakan daging, bumbu, alat pemanggang, dan koki ke rumah pemesan yang ingin mengadakan acara bersama rekan-rekannya, bisa ulang tahun, syukuran, pesta kebun, dll. Sebelum melayani pemesan, apa yang kami lakukan? Yak, tepat sekali, sebelumnya kami beli daging ke penjual daging, kami beli bumbu-bumbu untuk daging, membeli alat grill (pemanggang), membeli briket atau batok kelapa sebagai bahan bakar untuk memanggang daging, membeli bensin pun termasuk untuk mengangkut barang-barang, menggaji pegawai atau koki yang bekerja, dll. Siapa yang diuntungkan? Siapa yang rejekinya bertambah? Yap, tukang daging yang dagingnya kami beli dapet rejeki, yang jual bumbu-bumbu buat daging jadi senang karena barang jualannya kami beli, yang jual alat grill pun bisa dapat rejeki, bahkan tukang bensin pun kena manfaatnya saat kami beli bensin ke sana, dan sebagainya. Apa yang baru saja terjadi adalah gerakan ekonomi dan aliran rejeki yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Itu baru 1 contoh kecil, teman-teman. Bukankah uang yang mengalir itu lebih baik dan bermanfaat daripada uang yang diam dan membeku di tabungan? Bukankah semakin kita menjadi saluran rejeki bagi orang lain, akan semakin banyak juga orang yang mendoakan supaya usaha kita sukses?
5. Bebas Mengatur Pilihan, Bebas Mengatur Waktu
Kita sendirilah yang sebenarnya berhak memilih apa yang akan kita lakukan. Menjadi pengusaha, memiliki kebebasan mengatur pilihannya. Bebas, mau buka usaha kuliner, tidak ada yang melarang, mau buka usaha distro, sah-sah saja asal dia suka dan mampu, mau buka peternakan, dll apa aja boleh, sesuka kita, sesuai passion dan hobi kita pun bisa, menyenangkan bukan? Kemudian, kita bebas mengatur waktu kita sendiri. Tidak harus masuk kantor pagi dan pulang sore seperti yang dilakukan orang-orang kantoran. Waktu adalah hak prerogatif kita bro. kita bisa atur waktu bersama keluarga, waktu bersama teman-teman, waktu untuk memenuhi hobi kita, dan waktu kerja kita dengan bebas saat kita menjadi pengusaha. Semua di bawah kendali kita. Hal ini tentunya akan terasa sekali saat terjadi hal-hal di luar dugaan yang mengharuskan kita untuk ‘hadir’ di sana, seperti saat saudara dekat kita sakit, kita bisa langsung menyediakan waktu untuk membantu, tanpa ragu-ragu, tanpa prosedur ijin, karena, sekali lagi, kitalah yang mengatur waktu kita sendiri. Jujur, kebebasan waktu itu nikmat sekali.
6. Bisa Belajar Banyak Hal dan Action Oriented
Ngomong-ngomong, saya adalah salah satu penggemar Mantan Wakil Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla. Beliau salah satu orang Indonesia yang smart, setidaknya dapat kita lihat lewat statement dan action beliau saat menjalankan amanahnya sebagai Wapres. Saya terkesan dengan wawasannya yang sangat luas dan bagaimana beliau mampu mengambil action yang cepat, tepat, tidak banyak mikir, tetapi juga tidak asal ngawur. Rupanya kepribadian beliau ini terbentuk karena beliau sudah lama dan sangat berpengalaman menjadi pengusaha. Begitulah karakter pengusaha, punya wawasan yang luas karena setiap hari bisa menemui banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Pengusaha diharuskan untuk paham tentang ekonomi, politik, keadaan sosial dan budaya, kependudukan, kondisi global, dll walaupun sedikit-sedikit, tetapi holistik. Karakter lain dari pengusaha adalah keberaniannya dalam mengambil resiko. Mau kemana kita kalau tidak berani ngambil resiko, bahkan tidak berani ngembil keputusan? Ya akan mandek di tempat saja.
Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang membuat saya (dan semoga teman-teman juga) yakin untuk memilih jalan sebagai seorang entrepreneur. Semoga bermanfaat.