Bersyukur, bercampur kaget, dan sedikit tidak percaya. Itulah gambaran perasaan saya setelah baru-baru ini mendapatkan “rejeki tak terduga” dari Allah. Saya tidak bisa menyimpulkan secara pasti apa yang membuat rejeki ini datang, tetapi keyakinan saya mengatakan bahwa ini adalah keajaiban dari sedekah yang sudah Allah janjikan kepada hamba-Nya. Tulisan ini dibuat semata-mata untuk sharing dan berharap para pembaca juga bisa ikut melaksanakan dan akhirnya dapat turut merasakan manfaatnya.

Belum lama ini, saya belajar tentang keajaiban sedekah dari buku yang ditulis oleh Muhammad Assad, berjudul Notes From Qatar. Sekarang, yang bersangkutan sedang kuliah S2 Islamic Finance di Qatar Faculty of Islamic Studies. Di dalam bukunya tersebut, ia tulis bahwa sedekah adalah salah satu cara untuk memancing rejeki. Allah pun sudah menjanjikan kepada hamba-Nya yang melakukan amalan-amalan baik (seperti sedekah, menolong orang, dll), maka pahala baginya minimal 10 kali lipat.

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. Al An’am : 60).

Jauh sebelum saya pelajari buku itu, sebenarnya orang tua saya telah menanamkan pentingnya sedekah sejak saya masih kecil. Dari hal-hal yang sederhana, seperti membantu orang lain, menyisihkan uang jajan untuk berinfaq, menolong teman-teman dan tetangga yang kesusahan, dll. Semakin saya dewasa, Abah dan Umi – panggilan sayang untuk orang tua saya – pun semakin ‘kenceng’ mengingatkan saya untuk senantiasa bersedekah, tanpa kecuali, tanpa alasan untuk tidak bisa sedekah.

Kembali ke cerita di awal, tepat seminggu yang lalu sebelum “rejeki tak terduga” ini datang, tepatnya saat Jumatan di masjid, saat khatib sedang khutbah, kotak infaq ‘ngider’ seperti biasanya. Jujur saat itu kondisi financial saya sedang ‘kering’ karena harus diputar untuk start-up bisnis kedua yang baru berjalan beberapa hari. Dilema dompet pun terjadi, rasanya berat untuk mengeluarkan uang, bisa saja kasih 2000, tetapi rasanya malu sama Allah yang sudah memberi banyak sekali kebaikan kepada saya.  Akhirnya, tanpa pikir panjang, bismillah, justru saya ambil duit biru 50 ribu untuk dimasukkan ke kotak ideran itu. Pokoknya bismillah aja.

Pikiran singkat saat itu mengingatkan saya tentang ilmu sedekah yang sudah saya pelajari, bahwa makin berat kita sedekah (makin dekat dengan batas kemampuan maksimal kita), makin baik dan makin mantabbb pula manfaatnya. Saya juga yakin 100% bahwa asal ngasihnya ikhlas, Allah akan membalas semua ini. Btw, pamrih ke manusia itu ga boleh, tapi pamrih ke Allah itu boleh, malah bagus, Allah senang dengan hamba yang meminta pertolongan kepada-Nya, asal cuma ke Allah, satu-satunya tempat bergantung. Malah saat itu saya sempet iseng dalam doa saya, “Ya Allah, bagi-Mu tidak ada yang sulit, bagi-Mu pula tidak ada yang tak mungkin, kalau sedekah kan dibalas minimal 10 kali, kayaknya asyik ya kalau sedekah 50 ribu dapat balesan 500 ribu, hehe” (seorang hamba yang tidak sopan).

Seminggu kemudian, pada hari Jumat pagi, saya dipanggil untuk mengikuti audisi awal Youth Start Up Icon, kontes bagi pengusaha muda pemula yang merupakan hasil kerjasama MarkPlus Inc, Astra Honda, dan majalah Marketeers. Saya memang sudah mendaftar secara online pada akhir bulan Mei 2011. Dari 70-an pengusaha muda asal Bandung yang mendaftarkan diri, kami dipanggil untuk mengikuti audisi awal di kantor MarkPlus Bandung pada tanggal 16 dan 17 Juni 2011, kemudian nantinya akan disaring menjadi 30 besar untuk mengikuti Grand Final di Hotel Aston Bandung pada tanggal 21 Juni 2011.

berfoto sebelum presentasi bisnis di audisi start up icon Bandung

Alhamdulillah, hari Sabtu, sehari setelah audisi, ada email masuk yang memberitahukan bahwa saya dinyatakan lolos ke Grand Final. Jujur, dari awal mendaftar, saya tidak terlalu memasang target yang tinggi, hanya ingin belajar dan menambah pengalaman sekaligus memasarkan usaha saya ke lebih banyak orang. Ternyata Allah ingin saya maju terus, maka saya dengan senang hati menerima keputusan-Nya itu, hehe.

Bukan hanya itu, yang membuat saya shock lagi adalah, ternyata di email tersebut juga tertulis bahwa setiap kontestan yang lolos ke Grand Final, akan diberi tiket Dinner Seminar Marketing GRATIS seharga Rp 500.000,-!!

Sesaat setelah membacanya, saya kaget dan bersyukur, “Ya Allah, beneran dikasih 500 ribuuu, Alhamdulillaaaah!!”.

Mungkin ini adalah cara Allah menunjukkan kepada hamba-Nya, bahwa dengan memberi dan bersedekah, harta si pemberi tidak akan berkurang, justru akan bertambah, bahkan berlipat-lipat. Ada yang bilang, berinvestasi dengan Allah itu tidak pernah rugi, malah berlipat ganda. Saya mengalaminya sendiri. Allah kasih balesan 1000% dari sedekah yang saya keluarkan.

dinner seminar marketing seharga Rp 500.000 for free!

Dari kejadian tersebut, saya semakin meyakini apa yang orang tua saya katakan tentang dahsyatnya sedekah. Ini hanyalah sebuah contoh kecil. Tentu sudah banyak orang yang mengalami dan membuktikannya, bahkan dengan limpahan-limpahan rejeki yang jauh lebih besar yang semua itu datang dari dzat yang Maha Kaya, Allah SWT. So rekan-rekan pembaca, mari bersedekah, buat yang masih memulai, kecil-kecil dulu tidak masalah, yang penting frekuensinya dijaga, syukur-syukur bisa makin sering sembari meningkatkan kuantitas sedekahnya. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang suka berderma untuk mendapatkan ridho-Nya. Amiin Ya Rabbal aalamiin.

pasca dijahit di UGD

Kamis sore, 5 Mei 2011, secara resmi, saya telah mencatat suatu rekor baru ke dalam daftar pengalaman berharga hidup saya. Pelipis kanan saya robek setelah terjatuh keras saat bertanding basket membawa nama himpunan kebanggaan, Himpunan Mahasiswa Farmasi ITB. Badan saya terpelanting dan akhirnya mendarat bebas setelah kalah adu badan (kalah ukuran badan pula, hehe) dengan salah satu pemain lawan, dari Himpunan Mahasiswa Astronomi. Proses itu berlangsung sangat cepat dan… duaaggg!! Kepala saya pun menghantam lantai lapangan basket, mengeluarkan darah, membuat ngeri suasana, hehe.

Singkat cerita, saya dibawa ke UGD RS Borromeus untuk mendapatkan penanganan segera. Selain luka di pelipis, ternyata bengkak di lutut kiri dan pergelangan tangan kiri, ditambah lecet di pinggang. Cukup menyakitkan saat itu, tetapi saya berusaha untuk tetap enjoy. Akhirnya, saya dapat 8 jahitan di pelipis dan suntikan antitetanus di lengan. Saat itu juga, dokter langsung membolehkan saya pulang. Pada kesempatan ini, saya sampaikan banyak-banyak terima kasih kepada rekan-rekan yang saat itu turut membantu saya mulai dari kejadian di lapangan, lanjut mengantar ke rumah sakit, dan sampai saya pulang ke kosan, juga siapapun yang mendoakan. Semoga jadi amal mulia yang berlipat balasannya, amiiin.

Alhamdulillah, sekalipun rasa tidak nyaman karena sakit itu tidak bisa dihindari dan ada beberapa aktivitas yang tidak bisa saya lakukan, saya masih bisa mengatasinya dan bahkan menikmatinya. Justru saat itu, saya bersyukur karena telah disadarkan oleh Allah atas nikmat sehat yang selama ini Dia berikan. Bukankah nikmatnya sehat itu benar-benar terasa saat kita sedang kehilangan kesehatan? So, alih-alih mengeluh, lebih baik saya syukuri saja masa-masa sakit itu. Alhamdulillah Ya Allah!

Untung saya pernah membaca bukunya Ippho Santosa yang judulnya 7 Keajaiban Rezeki. Di dalamnya, ada suatu bagian yang membahas bagaimana sembuh lebih cepat dengan menggunakan otak kanan (otak tidak logis, tidak linier, dan otak kreativitas). Inilah resep beliau dalam mempersingkat sakit dan mempercepat kesembuhan:

  • Jangan terlalu dipikirkan sakitnya. Kalau mau sehat, sebutkan kata ‘sehat’ dan bayangkan kondisi sehat itu. Ulangi terus menerus, semakin sering, semakin baik.
  • Berkatalah, bersikaplah, dan bertindaklah layaknya orang sehat. Dengan kata lain, berpura-pura sehat sampai Anda benar-benar sehat.
  • Ingatlah, setiap kali Anda mengeluh, disadari atau tidak, diucapkan atau tidak, maka otak akan merekam keluhan itu dan menguatkannya. Maka pastikan otak merekam dan menguatkan sesuatu yang positif.
  • Tetapkan kapan Anda akan sehat dan perjelas semuanya. Lakukan dengan keyakinan.
  • Mintalah doa dari orang-orang terdekat. Saat inilah DOA dan LOA (Law Of Attraction) bekerja maksimal, yaitu saat kita menyelaraskan doa dan keinginan kita ke dalam doa dan keinginan orang lain.
  • Bersedekahlah sekurang-kurangnya 10 persen dari biaya berobat dan dokter.
  • Dengan izin-Nya, Anda akan sembuh dalam waktu yang lebih cepat daripada orang rata-rata. Yah, ini bergantung pada keyakinan Anda sendiri.

Kurang lebih, langkah-langkah itulah yang saya lakukan. Bermodal keyakinan, doa, dan pikiran positif, serta melakukan tindakan kesembuhan dengan senang hati, Alhamdulillah, tiap hari saya merasakan sebuah percepatan perubahan yang semakin baik. Luka memar pada tangan dan kaki dengan cepat menghilang. Setelah genap 1 minggu, akhirnya jahitan di pelipis saya bisa dilepas, dan Alhamdulillah semua berlangsung lancar.

“Trauma? Masih mau basket lagi?” dengan yakin saya jawab: “Ga trauma, kalo di tangan saya sekarang ada bola basket, saya siap! hehe”

Begitulah sahabat-sahabatku sekalian, insyaAllah selalu ada hikmah yang indah saat kita bisa sabar, bersyukur, berikhtiar, dan bertawakkal terutama saat sedang diuji oleh Allah. Semoga bermanfaat :)

Sebagai salah satu orang yang mempunyai minat dan ketertarikan lebih terhadap bidang wirausaha atau istilah kerennya entrepreneurship, saya merasa harus membagikan apa yang saya lihat, rasakan, dan apa yang membuat bidang ini terasa asyik bagi saya. Pada akhirnya, tulisan ini saya beri judul, Fadhillah atau keutamaan Menjadi Pengusaha.

Inilah Awal Mula Saya Mengenal Entrepreneurship

Setelah lulus dari SMA Taruna Nusantara, saya masih memiliki sekitar 1 bulan free sebelum memasuki dunia kampus. Alhamdulillah saat itu, saya sudah mengantongi satu kursi untuk kuliah di ITB tanpa harus melalui ujian masuk SPMB atau SNMPTN. Sehingga bulan-bulan yang kosong tersebut saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menambah wawasan dan pengalaman. Salah satunya, adalah mengikuti seminar-seminar yang dapat menjaga otak tetap ON selama liburan, hehe.

Dari beberapa seminar yang saya ikuti, ada satu seminar yang menurut saya gila (dalam hal yang positif) dan dapat saya katakan memberi pengaruh yang besar terhadap kehidupan saya beberapa tahun terakhir ini. Judul seminarnya adalah “Cara Gila Jadi Pengusaha” yang dibawakan oleh President Direktur Primagama, Purdie E Chandra di Ballroom Quality Hotel, Solo. Kebetulan Pak Purdie adalah pakdhe (kakak dari Ibu) saya sendiri, hehe. Waktu itu saya diajak langsung oleh beliau dan berangkat dari Jogja satu mobil dengan beliau, boleh mampir ke kamar hotel, dan masuk ke seminarnya pun gratis, Alhamdulillah.

Singkat cerita (silakan hadiri sendiri seminarnya karena saya tidak akan ceritakan) setelah mengikuti seminar tersebut, malamnya kepala saya langsung panas ga karuan. Baru kali ini pemikiran saya goyah goyah- segoyahnya (lebai.com). Terus terang, virus entrepreneur yang beliau sampaikan benar-benar dahsyat. Banyak orang bilang itu berbahaya, tetapi bagi saya, itu bermanfaat saat kita mengolahnya dengan kadar dan pemahaman yang tepat. Sejak saat itulah, saya jatuh cinta dengan dunia entrepreneurship.

Bertemu dengan Sang Mentor

Semangat berwirausaha itu akhirnya saya bawa ke Bandung, kota tempat saya kuliah. Sayangnya, semangat saja tidak cukup untuk merealisasikan apa saja yang kita inginkan. Perlu untuk tahu bagaimana membuat semangat itu ditransformasikan menjadi tindakan atau action yang tepat dan sesuai sasaran. Saat itu, saya mencoba untuk mencari siapa yang kira-kira bisa dijadikan mentor, seseorang yang sudah melakukan sebelumnya dan bersedia membagikan ilmu dan pengalamannya.

Pencarian mentor ini memakan waktu yang lama, sekitar 1-2 tahun, sampai pada akhirnya saya menemukan seseorang yang luar biasa bernama Rendy Saputra. Kebetulan, saat itu Kang Rendy baru akan membuka les bisnis angkatan pertamanya, yaitu ECP (Entrepreneur Coaching Program), program belajar entrepreneurship yang diadakan tiap minggu sekali, sebanyak 9 pertemuan (selesai kurang lebih 3 bulan). Saya pun menjadi pendaftar pertama di angkatan pertama pula!

Tidak hanya mentor bisnis, dia pun akhirnya menjadi guru agama saya yang sampai sekarang, minimal kami bertemu seminggu sekali dalam keluarga ta’lim Darusy Syabab, rumah pemuda yang beliau dirikan 1 tahun yang lalu.

Belajar Berbisnis dengan ‘Saputra Way’ nya ECP

Ternyata pembelajaran di ECP melebihi dari yang saya bayangkan sebelumnya. Rendy Saputra tidak hanya mengajarkan seluk beluk bisnis, tetapi juga berbagi tentang kehidupan ini. Bahwa bisnis tidak semata-mata mencari keuntungan sendiri, bahwa bisnis harus dijalankan dengan ‘value’ yang benar sehingga berkah dan manfaat, dan lain-lain.

Salah satu yang sampai sekarang masih nempel di otak saya adalah sebuah mindset pengusaha yang di dalamnya tersirat betapa mulianya menjadi seorang pembuka lapangan pekerjaan bagi orang yang memerlukan. Berikut ini, saya akan jelaskan secara menyeluruh tentang keutamaan atau fadhillah menjadi pengusaha:

1. Membuka Pintu Rejeki yang Lebih Banyak

Rasulullah bersabda, 9 dari 10 pintu rejeki adalah dengan berniaga/berdagang/berwirausaha. Bukan berarti uang atau kekayaan itu segala-galanya, tetapi dengan harta yang lebih itu, kita bisa lebih bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan. Nabi Muhammad pun dulu seorang entrepreneur yang sukses, dan beliau jadikan kesuksesannya untuk membantu fakir miskin dan siapa saja yang memerlukan. Banyak saudara kita yang sampai sekarang harus hidup serba kekurangan dan bergantung pada sedekah, zakat, dan uluran tangan orang lain. Dengan memiliki rejeki yang lebih, maka kita bisa lebih banyak bersedekah dan beramal. Bukankah tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Bukankah membantu mereka yang kekurangan tidak cukup hanya dengan doa, tetapi juga tindakan nyata dari kita?

2. Membuka Lapangan Pekerjaan Bagi Orang Lain

Faktanya, jumlah pengangguran di negara kita saat ini masih sangat banyak. Dari yang hanya lulusan SD sampai SMA, bahkan lulusan kuliah. Sehingga negara ini membutuhkan orang-orang yang tidak hanya bisa melamar pekerjaan, tetapi juga yang sanggup memberi lapangan pekerjaan untuk orang banyak. Mereka para pengangguran itu perlu hidup yang lebih layak, dalam artian kebutuhan dasar sebagai manusianya terpenuhi dan aktualisasi dirinya pun terberdayakan. Bukankah setiap orang berhak atas kehidupan yang lebih baik? Bukankah kesuksesan akan lebih asyik kalau dicapai bersama-sama dengan orang lain, bukan dicapai sendirian dan membiarkan orang lain di sekitar kita tidak berdaya? Bukankah sangat menyejukkan hati ketika kita dapat menghidupi banyak keluarga minimal menjaga dapur mereka tetap ‘ngepul’ setiap hari?

3. Memanfaatkan Potensi dan Passion Kita, SELURUHNYA

Di poin ini, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa menjadi karyawan itu kurang baik ya, hanya bagi saya menjadi entrepreneur itu, sekali lagi, lebih asyik. Mengapa? Kita bisa bebas memakai seluruh potensi yang diri kita miliki saat berwirausaha. Saya yakin, setiap dari kita memiliki potensi dan passion yang tidak hanya satu, tetapi bermacam-macam. Ada seseorang yang suka seni, olahraga, dan hal yang berbau sosial. Ada yang jago akuntansi tetapi juga lihai bermain piano, bahkan suka bertani. Wah, macam-macam, dan akan menjadi sayang saat berbagai keahlian yang kita punya itu pada akhirnya banyak yang harus kita korbankan demi mengejar karir yang menuntut spesialisasi. Contohnya, di dunia kerja, ada seorang karyawan yang pandai masalah keuangan dan sebetulnya punya kemampuan juga di bidang marketing. Saat ia mengusulkan ide-ide marketingnya untuk perusahaan, biasanya bos nya akan berkata, “Anda bekerja di bagian keuangan, masalah marketing sudah ada tim nya sendiri, cobalah fokus pada bidang Anda dahulu.” Walah-walah, repot ya. Itu namanya pembunuhan potensi dan passion. Saat kita punya kemampuan 90 poin tetapi hanya bisa digunakan 40 poin, apa rasanya? Menjadi entrepreneur, kita bisa bebas memberdayakan kemampuan dan kekuatan kita, tanpa ada yang membatasi. Kita punya 100 poin, ya seratus seratus nya kita pakai semua. Bukankah kita harus mensyukuri SEMUA anugerah yang DIA berikan kepada kita?

4. Turut Berperan Menggerakkan Ekonomi Masyarakat

Agar lebih jelas, saya langsung kasih contoh saja mengenai poin menggerakkan ekonomi masyarakat. Kebetulan contohnya adalah saya sendiri, hehe. Alhamdulillah, sekarang saya sedang running bisnis jasa pesta barbeque, di mana kami menyediakan daging, bumbu, alat pemanggang, dan koki ke rumah pemesan yang ingin mengadakan acara bersama rekan-rekannya, bisa ulang tahun, syukuran, pesta kebun, dll. Sebelum melayani pemesan, apa yang kami lakukan? Yak, tepat sekali, sebelumnya kami beli daging ke penjual daging, kami beli bumbu-bumbu untuk daging, membeli alat grill (pemanggang), membeli briket atau batok kelapa sebagai bahan bakar untuk memanggang daging, membeli bensin pun termasuk untuk mengangkut barang-barang, menggaji pegawai atau koki yang bekerja, dll. Siapa yang diuntungkan? Siapa yang rejekinya bertambah? Yap, tukang daging yang dagingnya kami beli dapet rejeki, yang jual bumbu-bumbu buat daging jadi senang karena barang jualannya kami beli, yang jual alat grill pun bisa dapat rejeki, bahkan tukang bensin pun kena manfaatnya saat kami beli bensin ke sana, dan sebagainya. Apa yang baru saja terjadi adalah gerakan ekonomi dan aliran rejeki yang manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Itu baru 1 contoh kecil, teman-teman. Bukankah uang yang mengalir itu lebih baik dan bermanfaat daripada uang yang diam dan membeku di tabungan? Bukankah semakin kita menjadi saluran rejeki bagi orang lain, akan semakin banyak juga orang yang mendoakan supaya usaha kita sukses?

5. Bebas Mengatur Pilihan, Bebas Mengatur Waktu

Kita sendirilah yang sebenarnya berhak memilih apa yang akan kita lakukan. Menjadi pengusaha, memiliki kebebasan mengatur pilihannya. Bebas, mau buka usaha kuliner, tidak ada yang melarang, mau buka usaha distro, sah-sah saja asal dia suka dan mampu, mau buka peternakan, dll apa aja boleh, sesuka kita, sesuai passion dan hobi kita pun  bisa, menyenangkan bukan? Kemudian, kita bebas mengatur waktu kita sendiri. Tidak harus masuk kantor pagi dan pulang sore seperti yang dilakukan orang-orang kantoran. Waktu adalah hak prerogatif kita bro. kita bisa atur waktu bersama keluarga, waktu bersama teman-teman, waktu untuk memenuhi hobi kita, dan waktu kerja kita dengan bebas saat kita menjadi pengusaha. Semua di bawah kendali kita. Hal ini tentunya akan terasa sekali saat terjadi hal-hal di luar dugaan yang mengharuskan kita untuk ‘hadir’ di sana, seperti saat saudara dekat kita sakit, kita bisa langsung menyediakan waktu untuk membantu, tanpa ragu-ragu, tanpa prosedur ijin, karena, sekali lagi, kitalah yang mengatur waktu kita sendiri. Jujur, kebebasan waktu itu nikmat sekali.

6. Bisa Belajar Banyak Hal dan Action Oriented

Ngomong-ngomong, saya adalah salah satu penggemar Mantan Wakil Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla. Beliau salah satu orang Indonesia yang smart, setidaknya dapat kita lihat lewat statement dan action beliau saat menjalankan amanahnya sebagai Wapres. Saya terkesan dengan wawasannya yang sangat luas dan bagaimana beliau mampu mengambil action yang cepat, tepat, tidak banyak mikir, tetapi juga tidak asal ngawur. Rupanya kepribadian beliau ini terbentuk karena beliau sudah lama dan sangat berpengalaman menjadi pengusaha. Begitulah karakter pengusaha, punya wawasan yang luas karena setiap hari bisa menemui banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Pengusaha diharuskan untuk paham tentang ekonomi, politik, keadaan sosial dan budaya, kependudukan, kondisi global, dll walaupun sedikit-sedikit, tetapi holistik. Karakter lain dari pengusaha adalah keberaniannya dalam mengambil resiko. Mau kemana kita kalau tidak berani ngambil resiko, bahkan tidak berani ngembil keputusan? Ya akan mandek di tempat saja.

Dan keutamaan-keutamaan lainnya yang membuat saya (dan semoga teman-teman juga) yakin untuk memilih jalan sebagai seorang entrepreneur. Semoga bermanfaat.

Ada lelucon tentang Orang Bodo vs Orang Pintar (silakan definisikan sendiri seperti apa Bodo dan Pintar yang dimaksud di sini).  Jadi, apa bedanya Orang Bodo dengan Orang Pintar?

  • Orang bodo membuat sesuatu yang sulit dan rumit, menjadi sesuatu yang mudah dan sederhana. Sedangkan orang pintar malah hobi membuat hal simple menjadi hal yang kompleks, rumit, dan sulit dimengerti.
  • Orang pintar terlalu banyak pertimbangan, takut ini itu, resiko ini itu, nanti bisa ini itu, dan sebagainya, kasian kan, malah ga jadi dilakuin. Nah, orang bodo ga banyak pertimbangan, dia lebih berani ambil resiko, dan… terjadilah, dilakukanlah, dan sukseslah dia. Kalaupun gagal, dia senang sudah bisa belajar dari kesalahan.
  • Orang pintar kebanyakan pikiran, jadinya malah stress sendiri, apalagi kalau sudah gagal atau melakukan kesalahan, waduh, makin stress, makin ga nafsu makan, dan ga semangat hidup. Seakan semua harapan sirna sudah. Bagaimana dengan orang bodo? Easy.. hidup dibikin gampang aja, dibikin ringan, dibikin lapang. Dengan begitu, bebas dari gangguan pikirannya orang pintar. Justru otak makin jernih buat dipakai mikir.
  • Orang pintar berkata,”Pasarnya sudah jenuh! Bayangkan, 75 persen dari potensi yang ada sudah terjual. Lebih baik keluar.” Sedangkan orang bodo berkata,”Bayangkan, 25 persen dari pasar masih belum terjual! Ini tampaknya besar!”

Ya.. begitulah.. Orang Bodo vs Orang Pintar di atas hanyalah lelucon. Jangan terlalu diambil hati. Lalu apa kesimpulannya? Ya ampun, jaman sekarang masih suka main simpul-simpulan, kayak pramuka saja. Silakan disimpulkan sendiri, hehe

like father like son

Saya ingat sekali pesan ayah saya ketika beliau melepas saya ke Bandung untuk melanjutkan studi di ITB. Ngomong-ngomong, saya termasuk anak yang diwajibkan orang tuanya untuk merantau. Saat itu, tidak ada pilihan lain selain meninggalkan kota kelahiran, Yogyakarta. Setelah mendaftar ke universitas sana sini, beberapa di antaranya adalah ITB, UI dan NTU, akhirnya Allah memberi saya ITB. Alhamdulillah :)

Balik ke pesan yang ayah saya katakan pada saat itu, saya rasa tidak seperti kebanyakan orang tua yang menginginkan anaknya belajar rajin, dapat IP tinggi, cepat lulus kemudian bekerja di perusahaan yang bagus, ayah saya dengan semangat 45 malah menyuruh anaknya untuk tidak terlalu mementingkan akademis (buset, lumayan kaget waktu pertama kali denger), tidak perlu lulus cepat (makin stress dengernya), dan IP nya ga usah tinggi-tinggi (mulai sesak napas, udahlah, ga usah kuliah aja kalo gitu, hehe).

“Yang penting, perbanyak pengalaman hidup, dan itu bisa didapat dari siapapun, kapanpun, dimanapun, kemudian perbanyak value kehidupan, kuliah cukup dijadikan alat yang mempertajam pola pikir, that’s it “

Tunggu dulu, jangan buru-buru menyalahkan ayah saya, hehe. Beliau mengatakan hal-hal tersebut bukan tanpa alasan. Lagipula kan bukan berarti saya jadi ‘ngawur banget’ kuliahnya. Ini hanya masalah porsi dan prioritas, sekali lagi, hanyalah masalah porsi dan prioritas, dan ini sah-sah saja, lagipula ini hak prerogatif setiap keluarga.

Boleh setuju atau tidak, tetapi banyak cerita tentang orang sukses yang saat kuliah tidak terlalu pintar malah berhasil memimpin orang-orang yang bahkan jauh lebih pintar dari dia saat di bangku kuliah dulu. Kalau dipikir-pikir, ini apa-apaan?! Jadi yang sebenarnya pintar itu siapa? Silakan dijawab sendiri, hehe.

foto culun kelas 1 SMA

Dimulai dari arti nama Tahta Muhammad. Sebagian orang sudah terlanjur mengartikannya dalam konteks bahasa Indonesia, sehingga artinya menjadi tahta-nya Muhammad atau singgasana-nya Muhammad. Padahal nama ini harusnya diartikan dalam konteks bahasa Arab. Kata ‘tahta’ dalam bahasa Arab mengandung arti preposisi yaitu ‘di bawah’, sehingga arti nama saya yang sebenarnya adalah ‘di bawah Muhammad’ yang mengandung harapan agar saya bisa meneladani sifat-sifat mulia Nabi dan menjadi muslim yang seutuhnya di bawah ajaran Islam yang benar. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.